Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Filosofi Kepemimpinan Bugis sebagai Arsitektur AI Governance - Tata Kelola Kecerdasan Buatan

  Filosofi Kepemimpinan Bugis sebagai Arsitektur AI Governance - Tata Kelola Kecerdasan Buatan Oleh: Hafizh Hilman Asyhari Mahasiswa S1 Teknik Informatika - Institut Teknologi PLN Hari Tanggal : 19 Maret 2026 PROLOG: Ketika Mesin Harus Memimpin Bayangkan situasi di mana banjir bandang menghancurkan sebuah kota. Jalan tol terendam, jaringan komunikasi terputus. Ribuan penduduk perlu di evakuasi. Selain itu, Anda, manusia, diminta untuk membuat keputusan dalam beberapa detik: siapa yang harus dievakuasi pertama? Mana jalan yang paling aman? Hayati bergantung pada sumber daya yang terbatas. Sekarang bayangkan bahwa kecerdasan buatan mengambil keputusan. Apakah AI dapat memberikan arahan yang adil? Apakah algoritma dapat membuat keputusan yang bijak secara manusiawi dan cepat serta efisien? To Manurung, legenda lama dari Sulawesi Selatan, mungkin adalah jawabannya. BAGIAN 1: Siapa To Manurung? Bugis menganggap To Manurung sebagai orang pertama yang turun dari langit. Ia tiba di teng...

"Kematian" Sebuah AI: Belajar Filosofi Nusantara dari VTuber dan Komputasi Masa Depan

"Kematian" Sebuah AI: Belajar Filosofi Nusantara dari VTuber dan Komputasi Masa Depan Author : Hafizh Hilman Asyhari Pernahkah kamu menonton konser virtual larut malam, melihat avatar 3D bernyanyi dengan suara yang sesekali bergetar, dan entah bagaimana, kamu merasa sedih sekaligus terhubung dengannya? Bagi sebagian orang, Virtual Reality dan fenomena Virtual Artist —seperti KAF atau RIM dari Kamitsubaki Studio—hanyalah hiburan di layar kaca. Mereka adalah deretan kode, motion capture , dan poligon yang dirender oleh GPU. Secara fisik, mereka tidak nyata. Tapi, saat avatar tersebut mengumumkan Graduation (kelulusan/pensiun), tangis para penggemar di dunia nyata pecah. Kenapa kita bisa menangisi deretan piksel yang berhenti tayang? Jawabannya sederhana: karena kita tahu ada jiwa fana di baliknya. Karakter itu terasa hidup justru karena ia punya batas waktu. Ia bisa berakhir. Tanpa kita sadari, fenomena pop-culture ini sebenarnya sedang menjawab salah satu perdebatan paling ...

Mesin yang Bernapas: Belajar Arti "Hidup" dari Karakter Virtual dan AI

 Mesin yang Bernapas: Belajar Arti "Hidup" dari Karakter Virtual dan AI Author : Hafizh Hilman Asyhari Hari, Tanggal : Sumedang,18 Maret 2026 Seringkali, saat menatap layar monitor larut malam—melihat barisan kode pemrograman atau deretan data yang harus diolah—dunia terasa sangat kaku. Di dalam komputer, semuanya serba pasti. Logikanya hanya ada 1 atau 0, True atau False . Sistem digital menuntut kesempurnaan tanpa celah. Tapi belakangan ini, saya memikirkan sesuatu yang terasa agak absurd: bagaimana kalau masa depan teknologi justru tidak diciptakan untuk menjadi sempurna? Coba kita menengok sebentar ke skena Virtual Reality di Jepang. Bukan sekadar fenomena VTuber biasa, tapi mari perhatikan Virtual Artist seperti KAF atau RIM dari Kamitsubaki Studio. Secara fisik, mereka tidak nyata. Mereka adalah poligon, data 3D, dan piksel di layar. Namun, ketika mereka bernyanyi, kita bisa mendengar tarikan napas mereka, suara yang sesekali bergetar karena emosi, hingga jeda-jeda k...