Filosofi Kepemimpinan Bugis sebagai Arsitektur AI Governance - Tata Kelola Kecerdasan Buatan
Filosofi Kepemimpinan Bugis sebagai Arsitektur AI Governance - Tata Kelola Kecerdasan Buatan
Oleh: Hafizh Hilman Asyhari
Mahasiswa S1 Teknik Informatika - Institut Teknologi PLN
Hari Tanggal : 19 Maret 2026
PROLOG: Ketika Mesin Harus Memimpin
Bayangkan situasi di mana banjir bandang menghancurkan sebuah kota. Jalan tol terendam, jaringan komunikasi terputus. Ribuan penduduk perlu di evakuasi. Selain itu, Anda, manusia, diminta untuk membuat keputusan dalam beberapa detik: siapa yang harus dievakuasi pertama? Mana jalan yang paling aman? Hayati bergantung pada sumber daya yang terbatas.
Sekarang bayangkan bahwa kecerdasan buatan mengambil keputusan.
Apakah AI dapat memberikan arahan yang adil? Apakah algoritma dapat membuat keputusan yang bijak secara manusiawi dan cepat serta efisien?
To Manurung, legenda lama dari Sulawesi Selatan, mungkin adalah jawabannya.
BAGIAN 1: Siapa To Manurung?
Bugis menganggap To Manurung sebagai orang pertama yang turun dari langit. Ia tiba di tengah masyarakat yang tidak stabil, tanpa aturan, dan pemimpin. Ia datang dengan kebijaksanaan, bukan dengan pedang atau kekuatan militer.
Dalam naskah Lontara, To Manurung memiliki karakteristik berikut:
| Aspek | Deskripsi |
|---|---|
| Asal | Turun dari langit (bukan hasil pemilihan atau kudeta) |
| Legitimasi | Mendapat mandat dari Dewata Seuwae (Tuhan Yang Esa) |
| Kekuasaan | Tidak memaksakan, tapi diterima karena kebijaksanaan |
| Tugas | Menciptakan ade' (adat), bicara (hukum), rapang (teladan) |
| Akhir | Setelah tugas selesai, kembali ke langit—kekuasaan tidak abadi |
Filosofi ini menjadi dasar sistem pemerintahan Bugis: kepemimpinan tidak tergantung pada siapa yang paling kuat, tetapi pada siapa yang paling cerdas dan disukai rakyat.
BAGIAN 2: AI Governance — Masalah yang Belum Terpecahkan
Dunia saat ini berlomba-lomba untuk mengembangkan governance AI, yaitu sistem AI yang membantu atau bahkan mengambil keputusan untuk masyarakat.
Contoh sebelumnya:
| Negara | Aplikasi AI Governance |
|---|---|
| Estonia | AI untuk hakim pengadilan (membantu vonis) |
| Tiongkok | Social Credit System (skor perilaku warga) |
| Selandia Baru | AI untuk alokasi perumahan umum |
| UE | AI untuk prediksi pengangguran |
Masalah yang muncul adalah bias algoritma: AI dari Amerika Serikat dilatih dengan data dari Amerika Serikat, yang tidak sesuai untuk konteks Indonesia.
Legitimasi: Untuk alasan apa masyarakat harus mempercayai keputusan mesin?
Akuntabilitas: Jika AI salah, siapa yang salah?
Transparansi: Publik tidak dapat memahami AI "dalam kotak hitam"
Keabadian: AI dapat "berkuasa" selamanya.
To Manurung menawarkan solusi filosofis di sini.
BAGIAN 3: To Manurung sebagai Arsitektur AI Governance
Mari kita lihat bagaimana To Manurung merancang sistem AI:
3.1. Legitimasi Bukan dari Pemaksaan Konsep To Manurung: Kebijaksanaan memilih pemimpin daripada kekerasan.
Implementasi dari teknologi:
Pengguna harus "menerima" sistem AI, bukan dipaksakan.
Ini menunjukkan:
- AI harus dapat menjelaskan keputusannya.
- AI harus dilarang jika melanggar aturan lokal.
- AI memerlukan partisipasi publik dalam pelatihan.
Contoh teknis: Algoritma pengalokasian bansos harus bisa menjelaskan "Mengapa keluarga A dapat, keluarga B tidak?" dalam bahasa yang dipahami warga.
3.2. Sumber Kekuasaan Transenden
Konsep To Manurung adalah bahwa kekuasaan berasal dari Dewata Seuwae dan memiliki unsur spiritual, bukan hanya ras.
Implementasi dari teknologi:
AI harus menyadari bahwa ada keuntungan yang melampaui efisiensi.Ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan harus dilatih dengan:
- Nilai-nilai lokal
- Ethics based on culture—bukan hanya utilitarianisme Barat—
- Memori sejarah (tentang sejarah dan trauma kolektif)
3.3. Tiga Pilar: Ade', Bicara, Rapang
Konsep To Manurung mengatakan bahwa pemimpin menciptakan tiga hal: Ade', yang merupakan adat (norma sosial), Bicara, yang merupakan hukum (aturan tertulis), Rapang, yang merupakan contoh (perilaku yang baik), dan Implementasi Teknis, yang merupakan arahan.
| Pilar | Padanan dalam AI |
|---|---|
| Ade' | Norma sosial yang dipelajari dari data perilaku masyarakat |
| Bicara | Aturan eksplisit yang diprogram (regulasi, UU) |
| Rapang | "Role model AI"—kasus-kasus teladan yang dijadikan referensi |
Sistem AI tidak hanya memahami undang-undang. Ia harus memahami standar sosial (ade) dan memiliki contoh yang baik (rapang).
3.4. Kekuasaan Tidak Abadi
Konsep To Manurung: To Manurung kembali ke langit setelah tugas selesai. Pemimpin tidak dapat bertahan selamanya.
Implementasi dari teknologi:
AI harus memiliki mekanisme untuk "evaluasi berkala" atau "pensiun".
Ini menunjukkan:
- Algoritma harus diperiksa secara teratur.
- Keputusan AI tidak lagi relevan.
- Jika sistem gagal, dapat diganti.
- Tidak ada "AI diktator" yang tetap berkuasa.
Contoh teknis termasuk evaluasi tahunan sistem prediksi bencana. Jika akurasi sistem menurun, ia "dipensiunkan" dan diganti dengan model baru.
BAGIAN 4: Studi Kasus Simulasi Pemerintahan Desa di Sulsel
Bayangkan kita membangun Digital Twin Desa di Sulawesi Selatan menggunakan arsitektur To Manurung.
4.1. Bagian Sistem
┌─────────────────────────────────────────────────────────┐ │ SISTEM TO MANURUNG AI GOVERNANCE │ ├─────────────────────────────────────────────────────────┤ │ │ │ INPUT: │ │ • Data kependudukan (umur, pekerjaan, pendidikan) │ │ • Data geospasial (peta desa, rawan bencana) │ │ • Data historis (kebijakan masa lalu, hasilnya) │ │ • Data adat (nilai-nilai lokal dari tetua) │ │ │ │ KOMPONEN UTAMA: │ │ • ADE' MODULE: Memahami norma sosial (dari data medsos)│ │ • BICARA MODULE: Mengecek aturan hukum (UU Desa) │ │ • RAPANG MODULE: 10 kasus ideal sebagai teladan │ │ • XAI ENGINE: Menjelaskan semua keputusan │ │ • SUNSET TIMER: Masa berlaku 1 tahun, harus dievaluasi │ │ │ │ OUTPUT: │ │ • Rekomendasi alokasi dana desa │ │ • Peringatan dini bencana │ │ • Saran mediasi konflik │ │ • Evaluasi kebijakan │ │ │ └─────────────────────────────────────────────────────────┘
4.2. Skenario Uji
Kasus: Alokasi dana desa Rp 1 miliar untuk 3 dusun.
Input AI:
- Dusun A: 500 jiwa, rawan longsor, 60% petani
- Dusun B: 300 jiwa, dekat pasar, 40% pedagang
- Dusun C: 200 jiwa, terpencil, 80% lansia
Proses AI ala To Manurung:
- ADE' check: Norma lokal "gotong royong" dan "prioritas lansia"
- BICARA check: UU Desa pasal 5 tentang alokasi merata
- RAPANG check: 3 desa teladan sebelumnya dengan kasus serupa
- XAI: Menjelaskan mengapa Dusun C dapat lebih banyak (lansia, terpencil, sesuai norma)
- SUNSET: Rekomendasi berlaku 1 tahun, tahun depan dievaluasi ulang
BAGIAN 5: Keunggulan To Manurung Dibanding Model Barat
| Aspek | AI Governance Model Barat | AI Governance Model To Manurung |
|---|---|---|
| Sumber Nilai | Universal (Hak Asasi Manusia versi PBB) | Lokal (adat Bugis, nilai komunitas) |
| Legitimasi | Legal-formal (UU) | Kultural-spiritual (diterima masyarakat) |
| Penjelasan | Teknis (feature importance) | Naratif (cerita, analogi) |
| Evaluasi | Metrik (akurasi, presisi) | Holistik (dampak sosial, kepuasan) |
| Masa Kuasa | Tidak terbatas (selalu jalan) | Terbatas (harus dievaluasi) |
| Hubungan Manusia | User-AI (transaksional) | Pemimpin-Rakyat (relasional) |
Relevansi untuk Indonesia 2045
Tahun 2045 akan menjadi tahun ketika jumlah penduduk usia produktif Indonesia mencapai puncaknya. Bonus dapat berbahaya jika tidak diawasi dengan baik.
AI Governance ala To Manurung menawarkan dua hal:
1. Sistem yang berasal dari budaya sendiri daripada impor
2. Legitimasi natural karena sesuai dengan nilai masyarakat
3. Flexibilitas regional—setiap wilayah dapat memiliki "versi adat AI"
4. Karena AI tidak berkuasa selamanya, kontrol sosial Kebijakan yang manusiawi karena dididik dengan gagasan sipakatau, yang berarti saling memanusiakan.
EPILOG: Kembali ke Langit
Setelah menciptakan adat, hukum, dan teladan, Manurung kembali ke langit. Ia tidak bergantung pada kekuatan, tidak membangun kekaisaran megah, atau meninggalkan dinasti.
Ia meninggalkan sistem berpikir, keputusan, dan pemimpin yang masih ada di masyarakat.
Governance AI yang kita buat sama. Bukan untuk menciptakan "pemimpin abadi" di dalam server; sebaliknya, tujuannya adalah untuk menciptakan sistem yang bijak, yang suatu saat akan berhenti beroperasi karena masyarakat sudah memiliki kemampuan untuk memimpin dirinya sendiri.
Itu adalah pandangan To Manurung.
Itu adalah masa depan kecerdasan buatan manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Matthes, B.F. (1864). Boeginesche Chrestomathie. Makassar: Government Press. (Naskah Galigo versi Belanda)
Salim, M. (1995). Kepemimpinan dalam Masyarakat Bugis. Ujungpandang: Lembaga Penerbitan UNHAS.
Pelras, C. (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers.
Abidin, A.Z. (1983). Wajo' pada Abad XV-XVI: Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi Selatan. Bandung: Alumni.
Mattulada. (1985). Latoa: Suatu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Harrell, D.F. (2013). Phantasmal Media: An Approach to Imagination, Computation, and Expression. Cambridge: MIT Press.
Setchi, R., Lagos, N., & Froud, D. (2007). Computational Imagination: Research Agenda. Proceedings of the 4th International Conference on Computer Vision Systems.
IEEE Transactions on Affective Computing (2024). Emotion-Aware AI Systems.
Tentang Penulis
Hafizh Hilman Asyhari adalah mahasiswa S1 Teknik Informatika di Institut Teknologi PLN yang sedang memetakan persimpangan antara komputasi, filsafat Nusantara, dan masa depan teknologi. Artikel ini adalah bagian pertama dari seri "Komputasi Berjiwa Nusantara" yang akan membahas:
✅ To Manurung (Sulsel) - AI Governance
⬜ Putri Karang Melenu (Kaltim) - Environmental Computing
⬜ Batu Tagak (Sumbar) - Affective Computing
⬜ Nyi Mas Gandasari (Cirebon) - Virtual Character & Gender AI
⬜ Mortéka Madura - Computational Folklore
Kritik, saran, diskusi:
hafizh2331206@itpln.ac.id
Komentar
Posting Komentar