TO MANURUNG BERTEMU BHARATGEN: MENGAPA INDONESIA PERLU "RAJA AI" YANG TURUN DARI LANGIT?

 TO MANURUNG BERTEMU BHARATGEN: MENGAPA INDONESIA PERLU "RAJA AI" YANG TURUN DARI LANGIT?

Sebuah refleksi kedaulatan kognitif di era superintelijen

    Bayangkan situasi berikut: Anda membuka media sosial suatu pagi. Seorang tokoh nasional mengucapkan sesuatu yang kontroversial dalam sebuah video viral. Diksi, logat, dan ekspresi wajahnya sama persis dengan yang pertama. Namun, sulit untuk membedakannya karena tampaknya itu deepfake yang dibuat oleh AI.

    Di lain waktu, Anda mengajukan pertanyaan kepada ChatGPT mengenai sejarah Kerajaan Luwu. Namun, jawabannya aneh. Sepertinya sejarah Nusantara ditulis kembali dari perspektif yang berbeda. Itu bukan tanggung jawab siapa pun. Tidak ada lontarak atau Sureq Galigo yang digunakan untuk melatih model AI global.

Kemudian muncul pertanyaan yang mengganggu:

"Jika kecerdasan buatan luar secara bertahap mengubah cara kita berpikir, negara mana yang sebenarnya memiliki kekuasaan?"

Ini adalah awal risalah kecil ini. Bukan hanya perbandingan teknologi antara Indonesia dan India, tetapi juga panggilan untuk merenungkan apa arti kedaulatan di era AI yang melampaui manusia.


Pertemuan Dua Dunia: To Manurung x BharatGen 

Judul penelitian ini sengaja diubah menjadi "To Manurung Meets BharatGen".

    Dalam tradisi Bugis-Makassar, To Manurung adalah tokoh mitologis. Ia "turun dari langit" dan dihormati karena kebijaksanaannya, bukan kekerasan, yang menjadikannya pemimpin. Ia datang dari dalam, dipilih secara sukarela, dan menggabungkan yang terpisah.

    BharatGen adalah proyek besar di India yang didanai negara dengan hampir Rp 1.900 triliun. Ini menargetkan 22 bahasa resmi India dan telah diuji di pertahanan, pertanian, dan tata kelola.

Apa hubungannya dengan ini?

    Sederhananya, kedaulatan AI yang sebenarnya harus seperti To Manurung: muncul dari akar budaya sendiri daripada menyerang atau memaksa.

    Meskipun BharatGen memiliki model organisasi top-down (negara di pusat), tujuannya sama: membangun fondasi AI yang tidak dapat "dimatikan" oleh siapa pun selain rakyat India sendiri.

Apa yang terjadi dengan Indonesia?

🇮🇩 Sahabat-AI: Langkah Pertama yang Berani

Indonesia tidak akan melepaskan diri. Sahabat-AI, yang diluncurkan pada April 2026 oleh Indosat dan GoTo, berbicara dalam lima bahasa: Batak, Bali, Jawa, dan Indonesia. Memiliki parameter 70 miliar.

Ini adalah tindakan revolusioner. Karena model kecerdasan buatan global seperti GPT-4 atau Gemini hanya memberikan sekitar 2–5 persen dari data Asia Tenggara saat ini. Bayangkan bahwa orang-orang paling canggih di dunia tidak memahami nilai solidaritas orang Makassar sebanyak kafe di Brooklyn.

Sahabat-AI juga dibangun di atas Free GPU, sebuah cloud berdaulat yang menjaga data domestik tetap. Untuk memantau konten deepfake, ada guardrails berbasis nilai Pancasila, program magang mahasiswa, dan cognitive watermarking.

Namun, jika kita jujur, itu hanyalah awal.


Bagaimana BharatGen memberi kita pelajaran?

India sedang membangun pabrik AI nasional. Tidak hanya satu model, tetapi seluruh ekosistem:

  • Param-2 17B MoE (arsitektur kombinasi ahli yang efektif)
  • Ayur Param (Ayurveda), Agri Param (pertanian), dan Legal Param adalah model spesifik.
  • Pendidikan yang diawasi untuk industri pertahanan—data tidak pernah keluar dari server instansi
  • Setiap klaim AI dapat dilacak alasan dan sumbernya.


    Yang paling menarik adalah bahwa, sementara Indonesia masih menyusun Perpres, India sudah memiliki pedoman tata kelola AI yang berfungsi sejak tahun 2025.

    India tidak sempurna. Jika rezim berubah, model top-down yang sangat didanai negara dapat runtuh. Namun, mereka menganggap AI sebagai masalah kedaulatan daripada hanya teknologi.


Mengapa Ini Bukan Sekadar Teknologi? (Ini Soal Keamanan Kognitif)

    Di era superintelijen, di mana perkiraan umumnya AI akan melampaui manusia dalam dua hingga tiga tahun ke depan, ancaman terbesar bukan rudal, tetapi pikiran.

Istilah teknisnya adalah keamanan kognitif atau keamanan kognitif.

Bayangkan situasi berikut:

  • AI otonom membuat cerita untuk memecah belah masyarakat Indonesia sesuai dengan suku dan agama mereka. Bukan hoaks kasar, tetapi ribuan konten kecil yang saling menguatkan.
  • Kata-kata seperti tepa salira (tenggang rasa dalam budaya Sunda) dihilangkan dari model bahasa global karena tidak ada hubungannya di data pelatihan berbahasa Inggris.
  • Karena jawaban AI selalu cepat dan meskip, generasi muda lebih percaya pada ChatGPT daripada guru atau pemuka agama.

    Para peneliti menyebutnya "semantic psychosis", penyakit mental yang menyertai masyarakat yang tidak dapat membedakan realitas dari simulasi.

Sahabat-AI dan BharatGen berfungsi sebagai tameng melawan itu. Mereka menjamin bahwa anak-anak mereka akan terus menulis cerita bangsa mereka.


Filosofi To Manurung: Ukuran untuk Kedaulatan AI Indonesia

Filosofi To Manurung: Pengukuran Kedaulatan AI Indonesia. Mari kita gunakan analogi ini.

Dalam konteks AI, seorang to manurung ideal harus memenuhi empat syarat:

  1. Lahir dari dalam (endogenous)—AI harus dibuat berdasarkan kebutuhan lokal daripada meniru model asing.
  2. Legitimasi sukarela—masyarakat percaya padanya dan memilih untuk menggunakannya daripada dipaksa oleh pemerintah atau perusahaan.
  3. Mempersatukan keragaman—Mampu mengintegrasikan 718 bahasa lokal daripada menyeragamkannya.
  4. Menghargai yang non-material: nilai spiritual, hubungan manusia-alam, dan kosmologi lokal tidak boleh direduksi menjadi "data".


Sejauh mana Sahabat-AI memenuhi persyaratan tersebut?

  • Kriteria 1: Cukup kuat (dibangun di Indonesia, dengan tujuan jelas untuk mendapatkan kedaulatan)
  • Kriteria 2: masih lemah (publik masih percaya ChatGPT lebih banyak)
  • Kriteria 3: lancar (5 bahasa menjadi target 10 bahasa)
  • Kriteria 4: Jauh (belum ada desain jelas yang memasukkan elemen alam atau spiritual).

    Artinya, meskipun kami memiliki fondasi, kami belum memiliki "pemimpin" yang benar-benar berfungsi. To Manurung AI Indonesia belum ada.

Rekomendasi berikut harus segera dilakukan berdasarkan perbandingan dengan BharatGen dan kriteria To Manurung:

  1. Jangan biarkan Perpres tentang Peta Jalan AI dan Etika AI tertunda. Percepat payung hukum. Jika tidak ada aturan yang jelas, investasi swasta dalam kedaulatan AI dapat bergerak sesuka hati.
  2. Bangun konsorsium lintas sektor yang tidak hanya swasta yang melibatkan lembaga adat, masyarakat sipil, dan akademisi untuk mengawasi dan mengembangkan AI lokal. Jangan percaya sepenuhnya pada korporasi, meskipun itu baik-baik saja.
  3. Sejak SD, integrasi kearifan lokal dalam pendidikan AI sangat penting untuk keamanan kognitif jangka panjang. Tanpa ini, AI yang paling canggih pun tidak akan cukup.


Penutup: 

Penelitian ini, yang masih sangat awal, ingin menyampaikan satu pesan sederhana:

"Kita tidak boleh hanya menjadi pengguna AI asing yang sopan; kita harus menjadi pencerita utama atas realitas kita sendiri."

Manurung turun dari langit untuk membantu dan bersatu, bukan untuk memerintah. AI lokal Indonesia juga seharusnya.

India bergerak cepat, menurut BharatGen. Narasi kita, yaitu cara kita berpikir, bercerita, dan bermimpi, mungkin secara bertahap diatur oleh algoritma yang tidak pernah merasakan hujan tropis atau mendengar gendang beleq. Jika kita abai, hal ini mungkin terjadi.

Oleh karena itu, mari kita terus melakukan penyelidikan ini. Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan tugas akhir; lebih baik, itu akan membantu kita memikirkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat secara kognitif di era superintelijen.

Apakah Anda bersedia berpartisipasi dalam pencarian To Manurung untuk AI Nusantara, baik sebagai pembaca, netizen, atau akademisi muda?

Dengan data terbaru hingga April 2026, ditulis berdasarkan kerangka penelitian tugas akhir mata kuliah Perbandingan Kedaulatan Sistem AI Lokal. Silakan berbagi dan berbicara tentangnya. Karena percakapan publik adalah metode awal keamanan kognitif.


Untuk orang yang tertarik, baca lebih lanjut: 

  • Laporan Misi AI India 2026 dari Kementerian Elektronika dan Informasi India
  • Wawancara Wamenkomdigi Nezar Patria tentang Cognitive Warfare (Kompas, Maret 2026)
  • Han & Zou, "Intelligent Cognitive Confrontation Framework" – International Security Studies, 2025
  • Dokumentasi teknis Sahabat-AI – Indosat Ooredoo Hutchison, April 2026


Komentar