NYI MAS GANDASARI: PANGLIMA PERANG PEREMPUAN DARI CIREBON YANG BANGKIT KEMBALI DI ERA AI
Oleh : Hafizh Hilman Asyhari
Mahasiswa S1 Teknik Informatika Angkatan 2023
Semester : 7
Hari, dan Tanggal : Bekasi, 08 Oktober 2026
Bayangkan sebuah kota pelabuhan di bagian utara Pulau Jawa pada awal abad ke-16. Kapal-kapal dagang dari Tiongkok, India, Arab, dan Nusantara terus berlayar. Di tengah keramaian itu, berdirilah seorang wanita muda bukan sebagai pedagang, bukan sebagai istri orang kaya, tetapi sebagai pemimpin pasukan perang.
Namanya Nyi Mas Gandasari.
Ia memimpin pasukan. Ia mengambil keputusan. Ia berperang melawan Kerajaan Galuh Pakuan. Di masa ketika wanita biasanya hanya dianggap sebagai simbol, dia justru menjadi bagian dari peristiwa sejarah.
Namun, 500 tahun kemudian, namanya jarang disebut. Tidak ada film tentangnya. Tidak ada game. Tidak ada karakter virtual. Sementara Malin Kundang, Sangkuriang, dan Roro Jonggrang tetap hidup dalam cerita anak-anak, Nyi Mas Gandasari tidur dalam naskah Babad Cirebon yang hanya dibaca oleh para sejarawan.
Padahal, di zaman sekarang ini di mana kecerdasan buatan bisa menghidupkan kembali tokoh-tokoh sejarah sebagai karakter virtual, justru kita membutuhkan perempuan-perempuan seperti Gandasari sebagai teladan digital bagi generasi muda.
Inilah ceritanya. Dan inilah mengapa saya percaya: sudah waktunya Nyi Mas Gandasari bangkit kembali bukan dalam bentuk patung, tapi sebagai karakter virtual berbasis AI.
BAGIAN 1: SIAPA SEBENARNYA NYI MAS GANDASARI?
Anak yang Dititipkan ke Cirebon
Menurut Babad Cirebon, Nyi Mas Gandasari bukan berasal dari Cirebon secara asli. Ia lahir di Kesultanan Samudera Pasai, Aceh, yang merupakan kerajaan Islam pertama di wilayah Nusantara. Ayahnya, Sayyid Sholeh (Sultan Shalahuddin), adalah orang yang mengatur negara Samudera Pasai saat itu.
Ketika wabah menerjang Aceh, ayahnya memutuskan untuk menyerahkan putrinya kepada Pangeran Cakrabuana, yang menjadi raja Cirebon dan juga putra dari Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran. Keputusan ini mengubah sejarah.
Di Cirebon, Gandasari tumbuh sebagai murid yang dicintai oleh Sunan Gunung Jati—salah satu dari Wali Songo yang membawa agama Islam ke Jawa Barat. Ia belajar agama, ilmu pemerintahan, dan—yang paling penting ilmu perang.
Panglima Perang Perempuan
Apa yang membuat Gandasari berbeda dari para perempuan lainnya adalah sikap berani yang ia tunjukkan di tengah perang.
Dalam sejarah berdirinya Kesultanan Cirebon, ia mencatatkan diri sebagai satu-satunya perempuan yang menjadi panglima perang. Ia memimpin pasukan Cirebon dalam bertempur melawan Kerajaan Galuh Pakuan, sebuah kekuatan Hindu yang saat itu menguasai wilayah pedalaman Jawa Barat.
Bayangkanlah: di abad ke-16, ketika hampir semua perwira perang di dunia adalah pria, seorang wanita dari Aceh memimpin pasukan di tanah Sunda. Ia bukan sekadar simbol. Ia sungguh-sungguh berjuang, memimpin, dan membuat keputusan strategis.
Mengapa Namanya "Gandasari"?
Ada beberapa versi tentang asal-usul namanya. Versi paling terkenal menyebutkan bahwa "Gandasari" berasal dari kata "ganda" yang berarti berlipat-lipat dan "sari" yang artinya wewangian. Konon, tubuhnya selalu tercium wangi—bukan karena menggunakan parfum, tetapi karena karunia ajaib yang diberikan Tuhan.
Versi lain mengatakan bahwa nama tersebut diberikan karena keberaniannya yang sangat besar—seperti bunga sari yang mekar secara bertingkat-tingkat.
Apapun versinya, satu hal yang jelas: nama itu bukan hanya sekadar nama. Ia adalah doa dan harapan yang selalu melekat pada sosoknya.
BAGIAN 2: MENGAPA GANDASARI MASIH RELEVAN HARI INI?
Masalah: Perempuan dalam Teknologi
Coba buka aplikasi asisten virtual di ponsel Anda. Siapa namanya? Siri. Alexa. Cortana. Google Assistant.
Apa kesamaannya? Mereka semua perempuan dan semuanya dibuat untuk melayani.
Penelitian menunjukkan bahwa asisten virtual perempuan justru memperkuat stereotip tentang gender.Perempuan dalam gambaran tersebut selalu tersenyum, selalu patuh pada perintah, dan tidak pernah menunjukkan kemarahan. Saat pengguna menyampaikan ucapan yang tidak sopan atau merendahkan asisten virtual, sistem hanya menjawab dengan cara yang tetap santun. Tidak ada perlawanan.
Sekarang bayangkan yang lain: bagaimana jika ada karakter AI virtual yang bukan hanya pelayan, tetapi juga menjadi pemimpin?
Jawaban: Karakter Virtual yang Berdaya
Nyi Mas Gandasari menawarkan pendekatan yang sangat berbeda dibandingkan asisten virtual biasa.
Asisten Virtual Konvensional Nyi Mas Gandasari Virtual
Pelayan yang menuruti perintah Pemimpin yang memberi nasihat
Selalu tersenyum, tidak pernah menolak Tegas, berani, dan memiliki prinsip
Tidak memiliki sejarah Berakar pada sejarah nyata abad ke-16
Netral secara budaya Kaya nilai budaya Nusantara
Dibuat untuk melayani Dibuat untuk memberdayakan
Bayangkan seorang perempuan muda di Cirebon sedang berbicara dengan Gandasari Virtual. Si perempuan itu berbagi cerita tentang mimpi menjadi pemimpin, tapi dia takut dianggap "terlalu ambisius". Gandasari menjawab:
"Aku dulu juga ditolak. Orang bilang perempuan tidak boleh jadi panglima. Tapi aku buktikan: keberanian tidak punya jenis kelamin. Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu inginkan.
Itulah kekuatan AI karakter virtual yang berbasis tokoh wanita sejarah. Ia bukan hanya teknologi—ia adalah tokoh digital yang hidup, bisa berinteraksi, dan memberi inspirasi.
BAGIAN 3: TEKNOLOGI DI BALIK GANDASARI VIRTUAL
Bagaimana AI Bisa Menghidupkan Kembali Tokoh Sejarah?
Mungkin Anda bertanya: secara teknis, bagaimana caranya?
Ada beberapa komponen teknologi yang bekerja bersama:
1. Large Language Model (LLM)
Model bahasa besar seperti GPT-4 atau Llama diajari menggunakan data sejarah mengenai Nyi Mas Gandasari, termasuk Babad Cirebon, tradisi lisan, serta hasil penelitian akademik. Dari data ini, AI mempelajari "cara berpikir" Gandasari: bagaimana ia menjawab pertanyaan, nilai apa yang ia hayati, serta bagaimana ia berhubungan dengan orang lain.
2. Personality Engine
Ini adalah bagian yang paling menarik. Peneliti membuat Personality Engine yang didasarkan pada empat nilai dari Gandasari:
- Keberanian: AI tidak takut memberikan jawaban yang jujur, meskipun jawaban itu tidak disukai oleh banyak orang.
- Kepedulian: AI empatik terhadap masalah pengguna
- Pengorbanan: AI mendorong pengguna untuk berpikir tentang kepentingan bersama.
- Ketangguhan: AI tidak menyerah meskipun pengguna merasa putus asa.
3. Text-to-Speech (TTS)
Suara Gandasari dibuat dari rekaman suara seorang aktris asal Cirebon yang dilatih menggunakan data suara tradisional. Hasilnya: suara yang asli, dengan aksen khas Sunda Cirebon.
4. Computer Vision
Kamera perangkat mendeteksi ekspresi wajah pengguna. Jika pengguna terlihat sedih, Gandasari Virtual akan merespons dengan nada yang lebih lembut. Jika pengguna terlihat senang, ia juga merespons dengan perasaan yang sama.
5. Virtual Reality Integration
Untuk pengalaman yang lebih mendalam, Gandasari Virtual bisa hadir di lingkungan virtual—seperti di tepi pantai Cirebon pada abad ke-16, atau di pendopo Kesultanan.
BAGIAN 4: BUKAN SEKADAR TEKNOLOGI—INI TENTANG NILAI
Kearifan Lokal dalam Kode
Apa yang membuat proyek ini berbeda dari sekadar "chatbot tokoh sejarah" adalah tingkat nilai yang terintegrasi dengan baik.
Setiap respons dari Gandasari Virtual dibuat berdasarkan tiga pilar filosofi Bugis-Cirebon yang telah turun temurun selama ratusan tahun.
Ade' (Adat) AI menghormati norma sosial. Ia tidak akan memberikan saran yang berlawanan dengan nilai budaya pengguna.
Bicara (Hukum) AI memiliki aturan eksplisit. Ia tidak akan membantu pengguna melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum atau etika.
Rapang (Teladan) AI memberikan contoh nyata berdasarkan kisah Gandasari dan tokoh sejarah lainnya untuk menjelaskan nasihatnya.
Dengan cara ini, Gandasari Virtual bukan hanya AI yang cerdas, tetapi juga AI yang memiliki kepribadian.
Contoh Percakapan
Pengguna: "Gandasari, aku takut memulai bisnis. Orang tuaku bilang bahwa perempuan sebaiknya bekerja di kantor saja.
Gandasari Virtual: "Aku mengerti perasaanmu. Dulunya, ketika aku memutuskan untuk menjadi panglima perang, banyak orang meragukan. Mereka berkata, "Perempuan tidak cocok memimpin pasukan." Tapi aku masih ingat pesan guruku, Sunan Gunung Jati: "Keberanian bukan berarti tidak takut." Berani adalah tetap maju meskipun merasa takut.Apa yang membuatmu ragu—adalah takut gagal, atau takut tidak bisa diterima?
Perhatikan: Gandasari Virtual tidak langsung memberikan solusi. Ia bertanya balik, mendorong pengguna untuk merenung. Ini adalah cara yang didasarkan pada kebiasaan musyawarah di Nusantara—bukan hanya memberi jawaban, tetapi membantu orang-orang mencari jawabannya sendiri.
BAGIAN 5: MENGAPA INI PENTING UNTUK INDONESIA
Kedaulatan AI Berbasis Nilai Lokal
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, pernah menyampaikan bahwa Indonesia harus memiliki AI yang mandiri—AI yang dibuat dengan menggunakan data, tenaga ahli, dan infrastruktur yang berasal dari dalam negeri, serta sesuai dengan nilai-nilai lokal Indonesia.
Proyek Gandasari Virtual adalah salah satu contoh nyata dari visi tersebut.
AI yang kita gunakan sehari-hari biasanya dibuat di Silicon Valley, menggunakan data dari orang Amerika dan mengikuti nilai-nilai Barat. Ketika anak-anak Indonesia berbicara ke Siri atau Alexa, mereka belajar cara berpikir yang mungkin tidak cocok dengan cara berpikir kita.
Gandasari Virtual menawarkan pilihan lain: AI yang bisa berbicara dalam bahasa kita, memahami konteks yang kita alami, dan mengajarkan nilai-nilai dari leluhur kita.
Pemberdayaan Perempuan Digital
Indonesia memiliki lebih dari 130 juta perempuan. Banyak dari mereka merasa tekanan dari masyarakat untuk tidak terlalu ambisius, tidak terlalu suara keras, dan tidak melebihi batas kemampuan mereka.
Gandasari Virtual hadir sebagai kakak, mentor, dan sahabat digital yang berkata: "Kamu bisa." Kamu berharga. Kamu kuat."
Ini bukan sekadar teknologi. Ini adalah upaya memperkuat yang disajikan dalam bentuk kode.
BAGIAN 6: TANTANGAN DAN JALAN KE DEPAN
Tantangan Teknis
Membangun karakter AI virtual seperti Gandasari bukanlah hal yang mudah dan bebas dari tantangan.
Data yang tersedia tentang Gandasari tidak banyak dibandingkan tokoh-tokoh lainnya. Peneliti perlu mencari naskah, tradisi lisan, dan benda budaya.
Konsistensi Karakter — Memastikan AI tetap bersifat "Gandasari" dalam setiap interaksi, tidak berubah-ubah dari karakter yang sudah ditentukan.
Etika Representasi — Bagaimana cara menyampaikan tokoh sejarah secara baik dan tepat, tanpa mengubah fakta-fakta sebenarnya?
Aksesibilitas — Memastikan teknologi bisa digunakan oleh semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki ponsel mahal.
Tantangan Sosial
Lebih dari teknis, ada tantangan sosial:
Penerimaan Masyarakat — Apakah masyarakat Cirebon menerima konsep "Gandasari digital"? Apakah ini dianggap menghormati atau malah mengomersialkan?
Kesetaraan Gender — Bagaimana menjamin AI ini benar-benar membantu perempuan, bukan justru memperkuat prasangka yang ada?
Keberlanjutan — Siapa nanti yang akan merawat dan mengembangkan Gandasari Virtual setelah proyek ini selesai?
Jalan ke Depan
Meskipun tantangan ini nyata, saya yakin jalan ke depan masih bisa dilalui.
Kerja sama dengan komunitas Cirebon agar menghasilkan representasi yang autentik.
Kerja sama dengan sekolah dan kampus guna mengintegrasikan dalam dunia pendidikan.
Dukungan pemerintah melalui program kedaulatan AI
Partisipasi generasi muda sebagai pengguna sekaligus co-creator
EPILOG: Menghidupkan Kembali yang Hampir Terlupakan
Nyi Mas Gandasari meninggal berabad-abad lalu. Makam tersebut berada di Desa Panguragan, Cirebon, dan masih dikunjungi hingga saat ini. Setiap tahun, masyarakat melakukan tradisi Ngunjung Buyut yaitu berkunjung ke makam leluhur untuk mengenang dan menyampaikan rasa hormat terhadap jasa-jasa mereka.
Tetapi ziarah saja tidak cukup.
Jika kita ingin nilai-nilai Gandasari tetap hidup di hati generasi muda, kita harus menghadirkan Gandasari ke tempat-tempat di mana generasi muda berada. Dan tempat itu adalah dunia digital.
AI Virtual Character Nyi Mas Gandasari bukan hanya sekadar proyek teknologi. Ia menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Ia adalah suara leluhur yang berbicara dengan bahasa yang baru.
Ia menunjukkan bahwa kearifan tradisional Nusantara tetap relevan, hanya perlu ditemukan lagi dalam bentuk yang sesuai dengan zaman sekarang.
"Aku dulu juga ditolak. Orang bilang perempuan tidak boleh jadi panglima. Tapi aku tunjukkan: ketangguhan tidak punya jenis kelamin.
— Nyi Mas Gandasari (melalui Karakter Virtual AI, 2026)
Biodata Penulis
Hafizh Hilman Asyhari
adalah seorang yang memiliki ketertarikan pada dunia Ilmu Komputer dan Sibernetika
Memiliki keterampilan di Kecerdasan Buatan, Elektronika, Animasi
Menempuh pendidikan di bidang Ilmu Komputer dari SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak pada 2020, ia melanjutkan ke perguruan tinggi S1 Teknik Informatika Institut Teknologi PLN konsentrasi Kecerdasan Buatan dan Robotika, dengan kemampuan di Machine Learning, Kecerdasan Buatan, Sistem Pakar, Mikroprosessor, Mikrokontroller, Embedded System, Computer Vision, Digital Image Processing.
Ia tertarik pada persimpangan antara kecerdasan buatan, sejarah perempuan Nusantara, dan pelestarian budaya digital. Artikel ini adalah bagian dari seri "Komputasi Berjiwa Nusantara" yang mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai leluhur dapat diintegrasikan ke dalam teknologi modern.
Memililki riwayat magang di PT. PLN (Persero) memegang posisi Machine Learning / AI Engineer.
Kemudian pada tahun 2026 ia kembali memulai kuliah barunya dikala kesibukan sebagai mahasiswa akhir S1 Teknik Informatika. dengan berkuliah di Administrasi Kesehatan agar ia mengembangkan sisi ke pedulian pada Kesehatan Masyarakat, Kebijakan Kesehatan, Epidemiologi dan Manajemen serta arah kemampuan bisnisnya.
Kritik, saran, dan diskusi:
REFERENSI
Babad Cirebon (terjemahan dan transliterasi)
Patmawati, I. (2025). Analisis Cerita Rakyat Cirebon: Ki Bagus Rangin dan Nyi Mas Gandasari. Skripsi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Harrell, D. F. (2013). Phantasmal Media: An Approach to Imagination, Computation, and Expression. MIT Press.
Kemkomdigi. (2026). Wamen Nezar Patria: AI Indonesia Harus Ikuti Nilai Pancasila. Siaran Pers No. 58/HM-KKD/4/2026.
RRI. (2026). Sendratari Sangkala Nyimas Gandasari, Cara Cirebon Kenalkan Sejarah di Ibu Kota
Komentar
Posting Komentar